Mandor Harimau

Mandor Harimau begitulah dia dipanggil oleh rekan kerjanya, sambil membetulkan posisi rokok dia bercerita tentang lika-liku hidup di teras rumahnya yang asri. Hartono begitu nama yang diberikan orang tuanya, umur 51 tahun lahir nun di negeri jauh seberang lautan di ujung pulau Jawa, Jember Jawa Timur.

Tahun 1990 hijrah ke Riau diajak teman bekerja di PT. Tribakti Sarimas yang saat itu menanam kelapa hibrida, di daerah sentral yg terlatak di perbatasan riau dan jambi. bersama 52 orang lainnya hartono muda bertolak menuju negeri harapan, namun saat itu kenyataan yang ditemui jauh berbeda. gaji yang semula dijanjikan sebesar Rp.5.000 ternyata hanya Rp.1.900, lokasi PT yang jauh di tengah rimba dan akses yg sulit. sebagian besar dari rombongan itu memilih mundur dan kembali ke Jawa. Hartono dan sembilan orang lainnya pilih bertahan di tanah baru.


Hartono (Dok.Hutanriau)

Angin berubah Musim berganti, PT. Tribakti Sarimas membuka lahan baru di sekitar wilayah Lubuk Jambi, Hartono mengajukan pindah dan mengambil posisi di bagian pembibitan sawit. Di lokasi ini juga Hartono bertemu dengan jodohnya, orang melayu asli. “cinlok” bahasa kini nya. saat itu masyarakat tempatan banyak juga yang bekerja sebagai buruh harian. Enam tahun lamanya Hartono bergelut dengan bibit sawit, wataknya yang selalu ingin tahu membuatnya cepat memahami seluk beluk pembibitan, setiap ada tenaga ahli diturunkan perusahaan, Hartono selalu mengambil kesempatan belajar dan bertanya sedetil-detilnya, kemudian dari anjuran atasannya dia mulai mencatat setiap pengetahuan baru yang didapat. “pendidikan saya rendah, tapi saya tidak malu bertanya” begitu ujarnya. namun gaji tak jauh beranjak, gaji di pembibitan cuma Rp.2.050. “semuanya akan terasa cukup kalau mau bersukur” ujarnya lagi. karena ketekunan dan sifat mau belajarnya akhirnya Hartono diangkat menjadi mandor kepala wilayah plasma 8 di desa pantai yg menguasai lahan seluas 776 Ha, satu-satunya mandor yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. saat menjadi mandor itulah dia mendapat julukan “Mandor Harimau”, karena kedisiplinan dan pola kerja yang selalu sesuai dengan SOP perusahaan. “Bila tak sesuai SOP, maka akan saya suruh kerjakan lagi dari awal”. anak buahnya sangat paham dengan tabiatnya ini.

Tahun 2009 Hartono mengundurkan diri dari perusahaan karena merasa tidak mungkin akan bekerja sebagai karyawan dan makan gaji seumur hidup, sementara kebutuhan hidup terus meningkat, terutama biaya sekolah anak. Sebelum berhenti Hartono sudah menyiapkan sebidang kebun sawit yang sudah dirintisnya sejak tahun 2005, begitu mulai menghasilkan Hartono langsung ajukan pengunduran diri, hasil kebun menjadi penopang kehidupan sehari-hari. istrinya tetap bekerja di PT, “untuk jaga-jaga bila harga sawit jatuh” katanya.

Dengan keahlian yg dimilikinya, sampai sekarang masih banyak petani sawit yang memakai jasanya, seperti teknis pemancangan, penanaman, perawatan, pembibitan, pendeknya segala macam masalah persawitan.

Tahun 2018 Hartono Bergabung dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) Sungai Manggis Sejahtera Desa Air Buluh. Di Desa Air Buluh saat itu sudah mulai marak orang membudidayakan tanaman Jernang. Hartono tertarik bergabung karena nilai ekonomi jernang jauh lebih tinggi bila dibandingkan sawit. satu kilo serbuk jernang harganya bisa mencapai Rp.500.000. bandingkan dengan sawit yang harga perkilonya hanya berkisar diangka Rp. 1.500 – Rp. 2.000. Pertanian Jernang juga lebih efisien dibandingkan sawit. Sawit wajib bersih dari gulma, tidak boleh ada anak kayu dan pohon lain, harus di tebas semak2 nya, di pupuk secara rutin dan tepat waktu, sementara jernang justru membutuhkan wilayah yg rindang dan perlu adanya pepohonan untuk membantu tegakkan batangnya sehingga tidak perlu dilakukan konversi lahan yg membutuhkan modal besar dan tidak perlu merusak hutan dengan menebang pohon. masalahnya jernang adalah tumbuhan hutan yang belum pernah di budidayakan. masyarakat harus belajar sendiri bagaimana caranya agar jernang bisa tumbuh di dalam perkebunan rekayasa. lebih lanjut Hartono memaparkan bahwa saat ini semakin sulit mencari bibit jernang sebagai sumber anakan. maraknya aktifitas konversi lahan dan penebangan hutan menyebabkan sebaran jernang jauh berkurang. karena anggota kelompok yang semakin ramai, untuk kemudahan admnistrasi Hartono mendirikan KTH baru dengan rekan-rekannya, KTH itu mereka beri nama KTH Bukits Seribu.

Saat ini di area pembibitannya Hartono memiliki 4000 lebih bibit jernang siap tanam. pada awalnya hampir 90% dari bibitnya mati karena perlakuan yang kurang tepat. namun dengan adanya bimbingan dari KPH Singingi dan Yayasan Hutanriau, “Dari seratus batang anakan yang dipindahkan dari hutan paling yang mati hanya 3 sampai 5 batang” ujarnya.

Hartono sedang merawat bibit rotan jernangnya (Dok. Hutanriau)

Hartono menanam jernang secara tumpang sari di kebun sawit miliknya, memang belum menghasilkan karena umurnya belum sampai setahun, namun dari pengalaman petani lain untuk jenis jernang beruk umur dua tahun sudah mulai muncul bakal buahnya. pada saatnya nanti bila jernang sudah mulai panen Hartono berniat mengganti semua tanaman sawitnya dengan jernang.

Terakhir saya bertanya, Karena dijuluki Mandor Harimau, apakah pernah bertemu dengan harimau asli? sambil tertawa dia menjawab “jangan sampai”. (Hutanriau/ftr)